• Al Ittihadiyah
    • Sambutan Ketua Umum XX
    • Visi dan Misi
    • Sejarah
    • Struktur Organisasi
  • Pilar
    • Pilar Pendidikan dan Dakwah
    • Pilar Sosial
    • Pilar Ekonomi
  • Feed + NationUmat

    Feed + Nation Menjadi gerakan pembaharuan untuk Indonesia yang dimulai dari pergerakan Ummat oleh Al Ittihadiyah.

    Pilar Pendidikan & Dakwah

    • Agenda
    • Kajian Harian
    • Materi Masjid

    Pilar Sosial

    • Agenda
    • Kajian Harian
    • Materi Masjid

    Pilar Ekonomi

    • Agenda
    • Kajian Harian
    • Materi Masjid
  • Keanggotaan
  • Waqaf
No Result
View All Result
  • Al Ittihadiyah
    • Sambutan Ketua Umum XX
    • Visi dan Misi
    • Sejarah
    • Struktur Organisasi
  • Pilar
    • Pilar Pendidikan dan Dakwah
    • Pilar Sosial
    • Pilar Ekonomi
  • Feed + NationUmat

    Feed + Nation Menjadi gerakan pembaharuan untuk Indonesia yang dimulai dari pergerakan Ummat oleh Al Ittihadiyah.

    Pilar Pendidikan & Dakwah

    • Agenda
    • Kajian Harian
    • Materi Masjid

    Pilar Sosial

    • Agenda
    • Kajian Harian
    • Materi Masjid

    Pilar Ekonomi

    • Agenda
    • Kajian Harian
    • Materi Masjid
  • Keanggotaan
  • Waqaf
No Result
View All Result
Al-Ittihadiyah
No Result
View All Result
Home Hikmah

Khutbah Shalat Gerhana:Mengambil Hikmah Dibalik Gerhana Bulan

AI by AI
September 8, 2025
in Hikmah
0
Anjuran Melaksanakan Shalat Gerhana Bulan (Khusuf) dan Amalan Sunnah Terkait
0
SHARES
0
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Khutbah Shalat Gerhana:
Mengambil Hikmah Dibalik Gerhana Bulan
Oleh: Inayatullah A. Hasyim
Ketua Lembaga Amil Zakat (LAZ) Islamic Relief Indonesia

Khutbah Pertama

اَلْحَمْدُ لِلهِ الْمَلِكِ الْقَهَّارِ، الْعَظِيْمِ الْجَبَّارِ، خَلَقَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَأَجْرَاهُمَا بِقُدْرَتِهِ وَمَشِيْئَتِهِ فِي السَّمَاءِ إِلَى الْمَشَارِقِ وَالْمَغَارِبِ، فَسُبْحَانَهُ مِنْ إِلَهٍ مَا أَعْظَمَهُ، خَضَعَتْ لَهُ جَمِيْعُ مَخْلُوْقَاتِهِ الْعُلْوِيَّةِ وَالسُّفْلِيَّةِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، أَظْهَرَ لِعِبَادِهِ مِنْ آيَاتِهِ دَلِيْلًا، وَهَدَى مَنْ شَاءَ مِنْ خَلْقِهِ فَاتَّخَذَ ذَلِكَ عِبْرَةً، وَابْتَغَى إِلَى نَجَاتِهِ سَبِيْلًا. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، بَلَّغَ الرِّسَالَةَ، وَأَدَّى الْأَمَانَةَ، فَصَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أُولِي الْأَلْبَابِ وَالْبَصَائِرِ وَالتَّوْبَةِ وَالْإِنَابَةِ، وَعَلَى التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْحَشْرِ وَالْمَآبِ. أَمَّا بَعْدُ؛

فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَطَاعَتِهِ.

Hadirin jamaah shalat gerhana yang mulia…,

Marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT atas segala nikmat-Nya, terutama nikmat iman, Islam, dan kesehatan. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, sang pembawa cahaya hidayah.

Pada 8 September 2025 M (15 Rabiul Awal 1447 H) ini, kita akan menyaksikan fenomena gerhana bulan. Apa hikmah di balik peristiwa ini? Dalam khutbah singkat ini, kita akan membahas dua hal utama:

1. Islam Menghapus Takhayul dan Mitos

Dalam riwayat Shahih Bukhari dan Muslim, disebutkan bahwa selama hidup Rasulullah SAW terjadi sekitar enam kali gerhana. Salah satu yang paling dikenang adalah gerhana yang bertepatan dengan wafatnya putra beliau, Ibrahim, pada 27 Januari 632 M di Madinah. Saat itu, sebagian sahabat mengaitkan gerhana dengan kematian Ibrahim. Rasulullah SAW segera meluruskan dengan sabdanya:

إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللهِ، يُخَوِّفُ اللهُ بِهِمَا عِبَادَهُ، وَإِنَّهُمَا لَا يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ مِنَ النَّاسِ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْهَا شَيْئًا فَصَلُّوا، وَادْعُوا اللهَ حَتَّى يُكْشَفَ مَا بِكُمْ

“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda kebesaran Allah. Allah menakuti hamba-hamba-Nya dengan keduanya. Keduanya tidak gerhana karena kematian seseorang. Jika kalian melihatnya, bershalat dan berdoalah hingga gerhana itu selesai.” (HR Bukhari-Muslim)

Bandingkan dengan kisah Christopher Columbus yang memanipulasi gerhana untuk menipu penduduk asli Jamaika. Pada tahun 1504, Columbus dan krunya terdampar di Jamaika. Penduduk setempat awalnya memberikan makanan, tetapi kemudian berhenti karena Columbus tidak membayar. Columbus lalu memanfaatkan pengetahuan astronominya tentang gerhana bulan total yang diprediksi terjadi pada 29 Februari 1504. Ia mengancam penduduk bahwa Tuhan akan “menghilangkan” bulan sebagai tanda kemarahan. Ketika gerhana benar terjadi, penduduk ketakutan dan kembali memenuhi permintaan Columbus .

Kisah ini menunjukkan bagaimana ilmu pengetahuan disalahgunakan untuk menipu masyarakat yang belum memahami astronomi. Islam, sebaliknya, datang untuk menghapus takhayul dan mengajak manusia memahami fenomena alam sebagai tanda kebesaran Allah.

2. Lapisan Langit: Bukti Ilmiah Kebesaran Allah

Allah berfirman dalam Surah An-Naba: 12–13:

وَبَنَيْنَا فَوْقَكُمْ سَبْعًا شِدَادًا وَجَعَلْنَا سِرَاجًا وَهَّاجًا

“Dan Kami membangun di atas kamu tujuh (langit) yang kokoh, dan Kami menjadikan pelita yang bersinar (matahari).”

Kata “tujuh” dalam Al-Qur’an sering dimaknai sebagai kelipatan atau keagungan atau untuk merujuk pada “jumlah yang banyak”. Memang, ada milyaran bintang di atas sana. Namun, bila kita merujuk pada langit yang terkait dengan Bumi yang kita tempati, ilmu modern mengungkap bahwa langit memang terdiri dari tujuh lapisan-lapisan dengan fungsi khusus.

Tujuh lapisan atmosfer dan fungsinya berdasarkan kajian ilmiah modern yang selaras dengan isyarat Al-Qur’an. Ketujuh lapisan tersebut adalah:

  1. Troposfer (0-12 km). Fungsi: Lapisan terbawah tempat terjadinya cuaca, hujan, angin, dan awan. Suhu: Menurun seiring ketinggian (rata-rata -60°C di puncaknya).
  2. Stratosfer (12-50 km). Fungsi: Mengandung lapisan ozon (O₃) yang menyerap radiasi ultraviolet berbahaya dari matahari. Suhu: Meningkat akibat penyerapan radiasi oleh ozon.
  3. Mesosfer (50-85 km). Fungsi: Melindungi bumi dari meteor yang terbakar akibat gesekan atmosfer. Suhu: Turun hingga -90°C (lapisan terdingin).
  4. Termosfer (85-600 km. Fungsi: Menyerap radiasi sinar-X dan UV yang tinggi, menyebabkan suhu mencapai 1.500°C. Fenomena: Terjadinya aurora akibat ionisasi partikel matahari.
  5. Eksosfer (600-10.000 km). Fungsi: Lapisan terluar yang menjadi batas antara atmosfer dan angkasa luar. Komponen: Didominasi oleh atom hidrogen yang sangat renggang.
  6. Ionosfer (Bagian dari Termosfer dan Mesosfer). Fungsi: Memantulkan gelombang radio untuk komunikasi jarak jauh. Ketinggian: 60-1.000 km (tumpang tindih dengan termosfer dan eksosfer).
  7. Ozonosfer (Bagian dari Stratosfer). Fungsi: Konsentrasi ozon tertinggi (20-30 km) yang menyerap 97-99% radiasi UV. Penting: Melindungi kehidupan di bumi dari kanker kulit dan kerusakan ekosistem.

Gerhana mengingatkan kita akan keagungan sistem alam semesta yang diciptakan Allah SWT, bukan untuk ditakuti, tetapi untuk dipelajari dan disyukuri. Sungguh benar firman Allah SWT:

فَقَضَاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ فِي يَوْمَيْنِ وَأَوْحَىٰ فِي كُلِّ سَمَاءٍ أَمْرَهَا ۚوَزَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا بِمَصَابِيحَ وَحِفْظًا ۚذَٰلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ

Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa. Dan Dia mewahyukan (memerintahkan) pada tiap-tiap langit urusannya (masing-masing). Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-gemintang yang cemerlang, dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. (QS Fusilat: 12)

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى إحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ؛

فَيَا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُوْنَ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

Hadirin jamaah shalat gerhana yang mulia…

Gerhana bulan adalah panggilan untuk introspeksi dan mendekat kepada Allah. Sekali waktu, Rasulallah SAW sedang bersama-sama para sahabat, saat bulan purnama, tanpa gerhana. Lalu Rasulallah SAW mengatakan sebagaimana hadits berikut ini:

عَنْ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ: كُنَّا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَظَرَ إِلَى الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ فَقَالَ: إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كَمَا تَرَوْنَ هَذَا الْقَمَرَ لَا تُضَامُونَ فِي رُؤْيَتِهِ، فَإِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ لَا تُغْلَبُوا عَلَى صَلَاةٍ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا فَافْعَلُوا

Diriwayatkan dari Jarir bin Abdullah, “Suatu malam, kami tengah bersama Rasulallah. Kemudian Rasulallah SAW berkata, “Kalian akan melihat Tuhan kalian seperti melihat bulan purnama itu. Tidak terhalangi (sedikitpun) dalam melihat-Nya. (Yaitu) Jika kalian mampu untuk tidak dikalahkan dengan shalat sebelum matahari terbit dan sebelum matahari terbenam.” Rasulallah kemudian membaca ayat:

وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ الْغُرُوبِ

Shalat gerhana adalah sarana untuk mengingatkan kita agar senantiasa menjaga shalat wajib, terutama di waktu yang sering terabaikan untuk bisa berjamaah, yaitu shalat Asar dan shalat Shubuh. Maka, mari jadikan momen shalat gerhana bulan ini untuk:

  1. Memperbanyak istighfar dan dzikir.
  2. Meningkatkan sedekah dan amal kebaikan.
  3. Mengikis rasa takut pada mitos dan menguatkan tawakal kepada Allah.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِينَا وَ لِجَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ؛ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Catatan:

  1. Khutbah dua kali saat shalat gerhana bulan ini mengikuti pendapat Madzhab Syafii yang menyimpulkan khutbah gerhana sama dengan khutbah hari raya Idul Fitri atau Idul Adha.
  2. Kisah Columbus: Sumber Wikipedia Christopher Columbus dan sumber sejarah terkait ekspedisi Jamaika tahun 1504

Wallahua’lam bish showwab. Semoga bermanfaat. 🙏🙏🙏

Previous Post

Anjuran Melaksanakan Shalat Gerhana Bulan (Khusuf) dan Amalan Sunnah Terkait

Next Post

Scrolling Media Sosial: Ancaman Tersembunyi bagi Semua Kalangan

Related Posts

Anjuran Melaksanakan Shalat Gerhana Bulan (Khusuf) dan Amalan Sunnah Terkait
Hikmah

Anjuran Melaksanakan Shalat Gerhana Bulan (Khusuf) dan Amalan Sunnah Terkait

by AI
September 8, 2025
0

Gerhana, baik bulan maupun matahari, adalah tanda kebesaran Allah Swt.Peristiwa ini merupakan bagian dari sunnah kauniyah dan tanda-tanda kekuasaanAllah Swt....

Read more
Next Post
Scrolling Media Sosial: Ancaman Tersembunyi bagi Semua Kalangan

Scrolling Media Sosial: Ancaman Tersembunyi bagi Semua Kalangan

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kantor Pusat

Gedung Trihamas, Jl. Let. Jend. TB. Simatupang Kav. 11

Email : dpp@alittihadiyah.or.id

Telp: 0811320177

© 2023 Al-Ittihadiyah – Feed + Nation.

No Result
View All Result
  • Al Ittihadiyah
    • Sambutan Ketua Umum XX
    • Visi dan Misi
    • Sejarah
    • Struktur Organisasi
  • Pilar
    • Pilar Pendidikan dan Dakwah
    • Pilar Sosial
    • Pilar Ekonomi
  • Feed + Nation
  • Keanggotaan
  • Waqaf

© 2024 Al Ittihadiyah - Feed the Nation.